Pelalawan – Pemkab Pelalawan melalui program Pelalawan Eksotisnya terus mengembangkan potensi wisata yang berada di kabupaten Pelalawan. Salah satunya objek wisata Gelombang Bono yang terjadi mulai dari Bagian Muara Sungai Kampar (di belakang Pulau Muda) menyusuri ke bagian hulu sungai Kampar hingga ke desa Teluk Meranti dengan panjang jelajah lebih dari 50 Km yang merupakan akibat dari pertemuan air laut dan air sungai. Uniknya, fenomena ini merupakan salah satu kejadian alam terhebat di dunia yang ada di Kecamatan Teluk Meranti. Kekuatan alam yang menggulung gulung disepanjang muara sungai Kampar yang masyarakat setempat menyebutnya Bono.

Dahsyatnya gelombang Bono ini yang mencapai lintasan 30 meter dan hanya ada di setengah bulan terakhir di bulan Oktober sampai Desember ini di dianggap penduduk setempat berunsur magis dan mistis. Masyarakat yang bermukim di sepanjang tepian sungai Kampar itu menyebutnya tujuh hantu.

Namun Bupati Pelalawan HM Harris melihatnya secara berbeda, Bono diperkenalkan kepada dunia, di berbagai pameran wisata internasional Bono mendapat perhatian pengunjung. Tak sampai di situ, Pemkab Pelalawan juga mengundang peselancar kelas dunia untuk menguji kedahsyatan Bono. Promosi gencar gencaran menjadikan gelombang Bono bukan saja menjadi ikon wisata Pelalawan, bahkan menjadi ikon wisata local dan nasional.

Untuk menggarap objek wisata Bono itu, Pemkab Pelalawan membangun infrastruktur pendukungnya seperti menara pantau untuk mengamati Bono, membangun fasilitas fasilitas penginapan, dan tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan putra putri penduduk lokal untuk dididik menjadi pemandu wisata dan memperkenalkan Bono dan kebudayaan lokal kepada para turis.

Keseriusan Pemkab Pelalawan dalam mempromosikan Bono sebagai ikon wisata mendapat apresiasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, potensi wisata Bono dapat bersinergi dengan peningkatan kearifan budaya lokal yang pada akhirnya dapat berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari pengembangan wisata tanah air.

Menurut Harris, potensi yang dimiliki ini harus dimanfaatkan. Sebab, semua itu diciptakan Allah SWT untuk dimanfaatkan bagi masyarakat. Misalnya, keunikan bono dan sumber gas yang dimiliki Pelalawan.

Bono memiliki keunikan. Gelombang panjang yang bisa mencapai puluhan kilometer sangat berpotensi menarik wisatawan luar untuk datang berselancar (surfing). Karena, dengan gelombang bono di Teluk Meranti, para pencinta berselancar bisa surfing satu jam tanpa henti. Ini daya tarik utamanya dan tak ditemukan di tempat lain, ungkap Bupati Harris baru-baru ini.

Hanya, perlu penataan potensi daerah tersebut dengan menjadikannya paket-paket wisata. Karena Harris menilai, untuk menarik wisatawan mancanegara datang menyaksikan bono, selain promosi, perlu penataan prasarana dan sarana. Mulai dari perhotelan, homestay bagi para wisatawan mancanegara, pondok-pondok tempat pemandian, sarana transportasi pantai dan sebagainya.

“Selama ini pusat menganjurkan bagaimana menarik investor luar datang ke daerah dan menanamkan investasinya. Namun ketika investasi itu datang, daerah hanya tinggal jadi penonton. Ini yang mau saya ciptakan agar peluang ini bisa direbut. Jangan sampai nanti potensi yang ada ini malah dimanfaatkan orang luar dan masyarakat kita tetap jadi penonton. Diperkirakan untuk penataan sarana penunjang wisata bono sedikitnya perlu dana Rp5 miliar. Ini diluar infrastruktur jalan lintas bono”, ungkap Bupati HM Harris.

Harris mengatakan, potensi wisata itu bukan saja saat ada gelombang bono besar sejak September-Desember. Karena saat bono kecil, sepanjang kawasan itu jadi hamparan pantai yang bisa diciptakan wisata pantai yang juga menarik. Seperti paket tur wisata pantai menggunakan kendaraan khusus seperti ATV (All Terrain Vehicle) dan kehidupan dengan masyarakat tempatan.

Apalagi di kawasan objek wisata bono, akan dijual berbagai kerajinan masyarakat tempatan seperti tikar pandan yang bisa digunakan untuk santai sambil menikmati ombak di pinggir pantai bono.

Pemkab Pelalawan juga menyadari, dari semua itu perbaikan dan pembangunan sarana infrastruktur jalan tak dapat dielakkan. Pemkab kini telah menghitung berapa anggaran yang diperlukan.

Ini memang seperti angan-angan, tapi inilah yang kita coba mewujudkannya. Paradigma di masyarakat, sebelumnya bono jadi hal yang menakutkan, kita balik dengan coba ciptakan jadi hal yang bermanfaat dengan menjadikannya objek wisata, kata Harris.

Harris juga mengungkapkan pihaknya mengundang empat menteri. Yakni Menteri Koordionator Kesejahteraan Rakyat, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Menteri Pekerjaan Umum. “Kenapa Meneg PU juga kita undang, karena kita ingin melihatkan inilah infrastruktur jalan lintas bono yang kita perlukan untuk pengembangan potensi wisata ini”, ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Kadisbuppora), Andi Yuliandri, S.Kom kepada media ini melalui selulernya beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa selain promosi dilakukan, factor pendukung juga harus disediakan. Sejauh ini, ombak bono yang terletak di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan telah dikenal sebagai objek wisata andalan bagi masyarakat Riau dan telah berulang kali dikunjungi para wisatawan asing yang hobi surfing.

Disampaikannya, Sudah lebih ratusan surfer mancanegara dan nasional yang mencoba gelombang bono dan fotografer serta crew dokumenter yang mendokumentasikan bono serta lebih dari puluhan ribu pengunjung yang telah datang untuk menyaksikan bono.

Dijelaskan mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pelalawan ini, direkrutnya 10 warga kecamatan Teluk Meranti oleh KemenParekraf untuk mengikuti pelaksanaan pelatihan rescue dan juga surfing dasar yang berlangsung sejak 7-14 Maret di Cimaja Banyuwangi Jawa Timur ini, tidak terlepas dari upaya Bupati Pelalawan M Harris untuk terus mempromosikan keajabian dunia yakni gelombang Bono ini kepada dunia melalui Pemerintah Pusat.

“Dengan lobi pak bupati tersebut, maka Pemerintah Pusat melalui Kemen Parekraf RI memberikan pelatihan kepada 10 warga Bono kecamatan Teluk Meranti ini, guna menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang handal untuk menyiapkan dan mewujudkan Objek Wisata Bono menjadi objek wisata andalan dunia,” katanya.

Kadisbudparpora menambahkan, dengan adanya pelatihan rescue dan juga surfing dasar ini, tentunya diharapkan kedepannya pengelolaan objek WIsata Bono ini akan menjadi lebih baik lagi sehingga dapat menarik minat para pelancong dunia untuk mengunjungi objek wisata kebanggaan masyarakat Provinsi Riau khususnya Pelalawan.

“Dengan adanya pelatihan tersebut, nantinya untuk penanganan jika ada korban atau penanganan kecelakaan diobjek wisata Bono, maka unit rescue terutama masyarakat yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan rescue serta surfing dasar, akan bertindak langsung di lokasi wisata Bono untuk memberikan pertolongan,” pungkasnya ( M. Panjaitan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.