Denpasar, Jelajahkepri.com – Bekas kandang ayam berukuran 1X 1,5 meter milik Hamzah (40) warga dusun Beringin, desa Angsana, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan sudah tidak diisi ternak lagi, melainkan sudah berubah fungsi dan menjadi tempat mengurung anaknya Muhammad Efendi (12) lantaran memiliki kelainan sifat di bekas kandang ayam yang terbuat dari bambu, kayu dan papan.

Dikandang ayam inilah Efendi menghabiskan waktu sehari-harinya tanpa selembar kain yang menutupi sekujur tubuhnya. Didalam kurungan itulah Efendi makan minum buang air besar dan kecil serta tidur di kandang ayam.

“Tindakan yang diambil orangtua Efendi memasungnya didalam kandang ayam menunjukkan kegagalan dan ketidakpedulian pemerintah terhadap keberadaan dan derita Efendi,” kata Arist.

Arist menambahkan, Pemerintah Pamekasan gagal memberikan perlindungan bagi Efendi, dan ini juga dapat dikategorikan pembiaran (by ommission) pemerintah Kabupaten Pamekas terhadap hak anak. Demikian disampaikan Ketua Umum KOMNAS Perlindungan Anak Indonesia Arist Merdeka Sirait melalui) rilisnya dari Denpasar Bali, Rabu (09/10/2019) untuk merespon anak korban pemasungan di Madura.

Lebih lanjut, menjelaskan yang dikutip dari laman Kompas.com saat dikunjungi, Efendi berusaha berdiri dengan berpegang ke bila bambu. Setelah berhasil berdiri, ia mencoba meraih tangan dan baju orang yang datang menjambanginya. Sentuhan itu kemudian diikuti dengan tawa girang Efendi namun saat orang yang menyambanginya hendak pergi, Efendi meronta-ronta seperti minta untuk dikeluarkan dari dalam kurungan.

Lebih jauh Arist Merdeka Sirait menjelaskan, bahwa dalam perspektif perlindungan anak, pemasungan Efendi di bekas kandang ayam merupakan perampasan kemerdekaan dan kebebasan hak asasi manusia. “Tindakan pemasungan untuk mengatasi gangguan mental dan jiwa anak merupakan langkah mundur, ” ujar Arist.

Selain pemasungan anak, hal tersebut juga mengabaikan Konvesi PBB tahun 1989,tentang Hak Anak , dimana pemerintah terikat secara politis dan juridis wajib melaksanakannya, juga melanggar ketentuan UU RI Nomor : 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) jumto UU RI.Nomor : 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dan Instruksi Presiden No. 01 Tahun 2014 tentang GNAKSA dengan demikian, KOMNAS Perlindungan Anak mendesak Bupati Pamekasan untuk memerintahkan segera Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Pamekasan mengambil langkah-langkah sosial, dan medis untuk menolong dan memulikan mental dan jiwa Efendi.

Sementara itu, Latifah (36) Ibu kandung Muhammad Effendi menceritakan sejak masih bayi Efendi tumbuh seperti bayi pada umumnya, namun ketika usianya menginjak 3 tahun, Efendi tidak kunjung bisa berjalan dan tidak bisa bicara. “Dia hanya merangkak ke mana-mana, bicaranya tidak dimengerti. Sebagai anak ketiga paling banyak mendapat penjagaan dari kedua orangtuanya. Sebelum dikurung di dalam bekas kandang ayam, Efendi ditempatkan di dalam Surau namun masih bisa keluar dan merangkak keluar halaman rumah, ” ungkap latifah.

Ketika lepas dari pengawasan orang tuanya banyak makanan yang tidak layak dimakan , makanya kami coba untuk di kurung, tambah Latifah. Hal tersebut membulatkan tekad kedua orang tua Efendi, untuk mengurungnya sampai sekarang, karena Efendi pernah hilang dari rumahnya saat kedua orang tuanya pergi bekerja di sawah sampai sore.

“Efendi dicari sampai malam dan ditemukan di pinggir sungai,beruntung di sungai itu tidak sedang banjir.Pernah juga Efendi ditemukan di pinggir hutan timur, ” kata Hamzah.

Latifah awalnya mengaku tidak tega memasung anaknya, namun mereka berpikir dengan cara mengurung lebih banyak dampak positifnya.

Hamzah dan Latifah mengaku bisa tenang mencari nafkah untuk menghidupi ketiga anaknya yang lain.

“Kalau bicara perasaan, perasaan kamilah yang paling iba dan kasihan, tapi bagaimana lagi ini sudah nasib keluarga kami. Kami harus hidup dan harus bekerja, kalau tidak bekerja keluarga kami mau dapat makan darimana?” ujar Hamzah.

Lebih lanjut orangtua Efendi menjelaskan, bahwa Efendi pernah dikubur setengah badan untuk terapi penyembuhan. Hal itu dilakukan orang tua Efendi saran dari guru spritual namun tak membuahkan hasil.

Lalu Efendi kemudian dibawa ke guru spiritual lainnya, guru tersebut menyampaikan agar Efendi dirawat seperti biasa saja di rumah. Sebab kelak akan menjadi guru spiritual yang akan dicari cari orang.

Hamzah juga pernah sekali membawa Efendi ke rumah sakit untuk terapi namun hal itu menjadi yang terakhir karena keluarga ini tidak memiliki biaya.

Di akhir rilisnya Arist menjelaskan, untuk memastikan bahwa pemerintah Pamekasan telah mengambil tindakan pertolongan sosial dalam pemulihan mental dan jiwa Efendi, KOMNAS Perlindungan Anak melalui kantor perwakilannya yakni Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di Jawa Timur akan terus mengawal kasus ini.

“Saya percaya, demi kepentingan terbaik Efendi, Pemerintah Pamekasan tidak akan membiarkan hal ini, dan saya percaya dengan komitmen Dinas Sosial dan Kesehatan Pamekasan,”tambah Arist.

Berita sebelumyaPolda Kepri Papar Menyikapi Antrian Bahan Bakar Minyak(BBM) di SPBU Kota Batam
Berita berikutnyaSosialisasi Penggunaan Aplikasi SPSE Versi 4.3 Menuju Penerapan 100% E-Procurement di Lingkungan BP Batam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.